Jejak Terkini

Menapaki Pepadak, Bukit Endemi yang Mulai Nghits

NGHITS: Inilah kontur bagian puncak di Bukit Pepadak yang ditumbuhi ilalang sepanjang pandangan.
SELONG--Puluhan anak muda nampak bergegas memarkirkan kendaraannya di arena parkir. Rata-rata anak muda dilengkapi tas punggung carrier, sepatu, topi rimba serta perlengkapan pendakian lainnya.

Dari kostum yang dikenakan, mudah saja mengidentifikasi mereka. Anak-anak muda ini merupakan para pendaki.

Lazimnya anak muda, senda gurau berkali-kali terlontar dari perbincangan yang dilangsungkan. Mereka tampak segar dan bersemangat.

Tujuan mereka hendak menjajal eksotisnya Bukit Pepadak. Sebuah bukit yang belakangan ini mulai nghits melalui jejaring dunia media sosial.

Bukit yang terletak di Desa Perigi, Kecamatan Suela Lombok Timur ini santer menjadi perbincangan. Tak heran jika belakangan bukit ini menjadi salah satu yang diburu para pencinta wisata gunung.

Nama yang disematkan terhadap bukit ini tidak lepas dari beberapa flora yang tumbuh di atasnya. Salah satunya yakni rumput Peaadak. Sebuah jenis gulma yang tumbuh subur dan berendemi di bukit ini.

"Itulah kenapa warga kami di sini menyebut bukit ini dengan Pepadak. Kami ambil dari nama rumput itu," ucap Wirentake, salah seorang pengelola wisata bukit ini, Sabtu (11/7/2020).

Berketinggian sekitar 2.600 MDPL, bukit yang juga bisa diakses melalui Desa Mekarsari ini menyajikan panorama luar biasa. Keindahannya membuat para pendaki betah dan ingin berlama-lama.

Kontur perbukitan yang relatif landai memudahkan pendaki menikmati perjalanan yang dilalui. Dengan model konturnya ini praktis membuat jangkauan mata memandang lebih luas ke arah sekeliling.

Menjejaki setiap tapakan pendakian di bukit ini rupanya membuat para pendaki tak henti-henti takjub. Hamparan savana di depan mata seolah tumbuh menjadi padanan keindahan pada setiap lekukan permukaan bukit. Sementara pada bagian puncak punggung bukit ditumbuhi pohon-pohon yang lebat.

Savana ilalang yang membentang sepanjang perjalanan seolah terus berdendang mengiringi tapakan para pendaki. Ilalang-ilalang dengan gemulai bergoyang saban ditingkahi siur angin.

Di bukit ini ada sebuah sumber mata air yang bisa diakses para pendaki. Hanya saja, air yang keluar dari mata air ini rasanya agak pahit.

Khusus terhadap mata air ini, ada cerita menarik yang masih berkembang hingga saat ini. Konon, mata air dengan rasa yang aneh itu bisa menjadi obat.

Buktinya, suatu waktu ada seekor kijang yang cedera setelah menjadi kejaran para pemburu. Setibanya di mata air, kijang itu menceburkan diri. Spontan kijang yang cedera itu pulih dari cederanya dan selamat sebagai target buruan.

"Setelah menceburkan diri, cederanya sembuh, stamina pulih dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi pemburu," tutur Wirentake.

Kini sumber mata air tersebut kerap kali menjadi obyek kunjungan warga setempat. Mata air ini dikunjungi semata-mata sebagai syarat untuk berobat dari penyakit yang dialami masyarakat.

Sebelum tiba di lokasi pendakian, pengunjung terlebih dahulu bisa menikmati indahnya tanaman petani sekitar. Beberapa jenis tumbuhan yang akan mengakrabi pandangan seperti setempat alpukat, cengkeh, kopi, dan lain sebagainya.

Untuk bisa sampai ke lokasi tersebut, harus melewati empat pos. Di masing-masing pos menawarkan keindahan alam yang berbeda.

Di pos pertama misalnya. Pengunjung dapat menikmati lebatnya hutan sonokling. Di sepanjang fase pendakian ini, para pendaki melakukan pemanasan sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Rute pos pertama ini sangat rindang.

Memasuki pos kedua, pendaki akan disergap indahnya tarian ilalang. Sepanjang perjalanan menuju pos tiga, ilalang terhampar bak permadani hijau berukuran raksasa.

Usai menjejaki pos dua, di pos tiga para pendaki akan melihat eksotisnya pemandangan dari ketinggian. Pemandangan sebelah timur Pulau Lombok akan tergelar seumpama lukisan hidup.

Dari pos ketiga ini, para pendaki akan menyaksikan Selat Alas yang membelah Pulau Lombok dan Sumbawa. Belum lagi kapal-kapal yang tampak berukuran kecil terlihat lalu lalang.

Menyudahi perjalanan di pos tiga, para pendaki kembali bisa menikmati sambutan selamat datang dari savana ilalang. Hanya saja ilalang di bagian puncak punggung bukit ini jauh lebih luas. Pemandangannya pun jauh lebih eksotis.

Di spot poin inilah biasanya para pendaki mengambil foto berlatar belakang hamparan ilalang. Itulah spot poin yang kerap diunggah di jagat medsos oleh para pendaki.

Ketua Karang Taruna Desa Perigi, Muhamad Syukri mengatakan, di lokasi ini para pendaki tidak saja dimanjakan savana ilalang. Di waktu sore, para pendaki siap-siap akan disergap halimun yang akan memudar jarak pandang.

"Pasti terasa sangat dingin dan melankolis kalau kondisinya sudah seperti itu," ujarnya.

Bagi pengunjung yang tak memilki perlengkapan camping tak perlu khawatir. Pihaknya pengelola telah menyiapkan perlengkapan itu dengan harga yang bersahabat.

Untuk tenda ukuran 4 orang disewakan Rp 35 ribu, tenda dua orang Rp 25 ribu. Perlengkapan lain seperti sleeping bag hanya Rp 10 ribu, matras Rp 5 ribu.

"Harga yang kita berlakukan serba bersahabat," lanjutnya.

Demi menjaga keasrian dan kelestarian bukit ini, para pengunjung telah disiapkan kantong sampah sejak sebelum pendakian dimulai. Cara ini dilakukan agar bukit tersebut terbebas dari sampah. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar