Iklan

terkini

"Enamo", Miniatur Tradisi Investasi Masyarakat Sasak

Jejak Lombok
Friday, July 10, 2020, Friday, July 10, 2020 WIB Last Updated 2020-07-10T15:47:01Z
Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd
PADA detik-detik terakhir keberangkatan, owner Titanic, J.P. Morgan, harus memilih untuk tidak turut serta dalam pelayaran kapal mewahnya. Titanic kemudian hanya dikawal Direktur White Star Line,  J. Bruce Ismay, dan Thomas Andrews, seorang pengamat SWOT Titanic. Siapa yang menduga gagalnya keberangkatan sang owner adalah cinta Tuhan. Siapa pula yang mengira bahwa pelayaran Titanic saat itu adalah misi menjemput maut.

“Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.”  Adalah sebuah kalimat arif yang membantah keangkuhan J. Bruce Ismay dan Thomas Andrews dengan sesumbarnya: “Tuhan pun malu menenggelamkan Titanic.”  Alloh pun membungkam bibir mereka selamanya dengan menenggelamkan Titanic. Seluruh penumpang tewas, kecuali Rose kekasih Jack. Terhindarnya Rose dari kematian harus diyakini sebagai cara Alloh menghadirkan diri-Nya dalam misi pembelajaran hikmah tragedy musnahnya Titanic pada pelayaran perdana 15 April 1912.

Pada tahun 1997-1998, isyarat-isyarat langit kembali diremehkan. Pelaku bisnis di Thailand, Korea selatan, dan Indonesia asyik bermain dengan koin-koin Dolar Amerika. Mereka tidak menyadari perilaku ini menjadi objek pengamatan para speculator asing. Khususnya di Indonesia, kegandrungan bermain US $ karena kenyamanan sector ekonomi. Pada waktu itu, Indonesia memiliki inflasi yang rendah. Surplus neraca perdagangan lebih dari US $ 900 juta. Sementara itu, cadangan devisa lebih dari US $ 20 miliar. Perbankan Indonesia pun ketika itu sangat stabil. Hingga Semester I tahun 1997, Rupiah menguat terhadap US $.  Per US $ 1 sama dengan Rp. 2.380.  Kondisi moneter yang kondusif menggoda para pebisnis lebih memilih transaksi kredit menggunakan US $.

Goerge Soros kelahiran Hongaria, salah seorang pemain ekonomi sekaligus pemilik Hedge Fund Soros telah membuat nilai tukar Rupiah dan beberapa mata uang di Asia anjlok sampai ke titik nadir. Dengan perpanjangan tangannya di Asia. yang dikenal sebagai Quantum Fund,  Goerge Soros membobol pertahanan nilai mata uang Asia. Pada bulan Agustus 1997, Rupiah Indonesia pada Bursa Efek Jakarta jatuh tak berdaya. Januai 1998, Per US $ 1 sama dengan Rp. 11.000 dan pada Desember 1998, Per US $ 1 sama dengan Rp. 14.150. 

Nilai tukar Rupiah yang sedemikian rendah, akhirnya menekuk lutut pebisnis Indonesia. Bagi mereka yang telah telanjur leha-leha dan nyaman dalam permainan koin-koin US $, harus legowo dalam posisi sebagai objek penderita yang paling parah. Pasalnya, mereka dikenakan kewajiban untuk membayar transaksi kredit dengan nilai pembayaran yang melambung. Tidak banyak yang mampu bertahan dan di antara mereka dengan terpaksa harus gulung tikar.

Pada Tahun 2018, Kekuatan Tanpa Batas Alloh Ta’ala menggoyang Bumi Selaparang, Sulawesi, Maluku, dan sekitarnya.  Gempa dengan magnitude antara 6.0 sampai 7.0 melumpuhkan masyarakat, khususnya di sektor ekonomi. Selama hampir satu tahun sejak gempa menggoyang, bahkan sampai saat ini, banyak masyarakat Bumi Selaparang, Sulawesi, Maluku, dan sekitarnya masih sulit menggeliat membangun kembali perekonominya.

Senada dengan anasir di atas, belum pulih seratus persen dari dampak gempa, tahun 2020 saatnya kesabaran kita diuji. Pandemi Covid 19 melanda hampir seluruh zona dan benua. Indonesia tidak menjadi pengecualian. Terhitung Januari, Indonesia menjadi salah satu Negara yang dituntut serius menangani pandemic. Secara nasional Indonesia kemudian menerapkan protocol kesehatan dan beberapa kebijakan, seperti: lock down, Pembatasan Sosial Berskala Besar, penutupan tempat-tempat umum,  physical distancing, bahkan mengatur peribadatan secara ketat dengan pertimbangan hifzun nafs sebagai subtansi maqoshidus syar’i.  Penanganan pandemic Covid 19 yang sedemikian rupa ternyata merapuhkan daya perekonomian masyarakat bahkan negara. 

Beberapa peristiwa di atas merupakan pelajaran yang sangat berharga. Cukup sudah keangkuhan yang kemudian membuat owner Titanic putus asa meminta refund untuk merancang kembali kapal-kapal pesiar mewah berikutnya. Cukup sudah kelalaian para pebisnis yang tidak peka terhadap lompatan dan zig-zag pialang sekelas George Soros. Cukup sudah kelumpuhan ekonomi akibat bencana alam, seperti gempa Lombok, Sulawesi, Maluku, dan sekitarnya. Cukup pula kepenatan kita karena terdampak pandemic. Kita harus menyadari bahwa alternasi menghadapi setiap kemungkinan terburuk yang akan terjadi dikemudian hari wajib dipersiapkan. Khusus dalam sector perekonomian, investasi yang tepat adalah kata kunci alternasi tersebut.

Alloh SWT dalam QS Al-Baqarah Ayat 266 berfirman, “ Apakah ada di antara kamu yang mendambakan kebun kurma dan anggur di antara sungai-sungai yang mengalirkan air yang cukup, sedangkan kebun tersebut dapat menghasilkan buah yang buah buah yang segar? Manakala di antara kamu semua sudah tua dan anak-anakmu masih kecil, datang angin kencang dan panas menghanguskan semuanya. Demikianlah Alloh menjelaskan kepada kalian dengan ayat-ayat-Nya agar kalian berpikir.”

Ayat 266 al-Baqaroh di atas sangat gamblang menjelaskan tentang pentingnya berinvestasi sejak awal.  Ayat ini memberi petunjuk agar tidak lengah sedikit pun terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi kelak. Ayat 266 al-Baqaroh pun memastikan bahwa keadaan hari ini belum tentu dapat bertahan dalam kondisi yang berbeda di saat yang akan datang. Stabilitas hari ini, sama sekali tidak boleh men-trigger terungkapnya sesumbar, “ tujuh turunan harta ini gak akan habis-habisnya untuk dinikmati!”

Dalam QS An-Nisa Ayat 9, Alloh SWT pun menegaskan, “ Hendaklah mereka khawatir jika kelak mereka meninggalkan keturunan yang lemah. Mereka harus berpikir tentang bagaimanakah nasibnya kelak. Hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan berkata dengan perkataan yang benar.”

Bagi masyarakat Sasak, melakukan prepare yang memadai untuk menghadapi masa depan ternyata linier dengan nalar mereka. Untuk urusan ekonomi jangka panjang, masyarakat Sasak memiliki suatu tradisi yang cukup visioner.  Sederhana tapi menginspirasi. Mereka memiliki tradisi yang disebut “ENAMO”. Tradisi unik ini nyaris dilupakan. Enamo adalah investasi klasik masyarakat Sasak dengan menabung sebagian hasil bertani, berkebun, berladang, berniaga, dan upah kerja mereka.

Enamo atau investasi menabung dilakukan oleh masyarakat Sasak dengan memanfaatkan sebuah tempat yang dibuat dari jenis buah labu (bokar, sondak), tempurung kelapa, dam bambu. Khusus labu dan tempurung kelapa, daging buahnya dibersihkan dengan alat khusus yang disebut sungkit atau seluh. Setelah bersih, tempurung atau cangkang labu dijemur beberapa hari. Setelah kering, tempurung  atau cangkang labu dihaluskan dengan pemaje (pisau kecil yang tajam). Tempurung  atau cangkang labu yang sudah halus, diolesi minyak kelapa murni sampai berwarna kilat – bercahaya. Bagian tertentu yang terbuka untuk mengeluarkan isinya, dibuatkan penutup dengan model buka-tutup dan dijadikan sebagai bagian untuk memasukkan uang atau kepeng tabungan. Enamo tersebut disimpan dalam tempat rahasia, bahkan ada masyarakat Sasak yang menyimpannya di dalam tanah pada kamar tidur kepala keluarga.

Dalam satu kepala keluarga, Enamo minimal satu dan maksimal sebanyak anggota keluarga inti yang sudah berpenghasilan. Enamo diambil paling cepat sekali dalam setahun atau tiga tahun. Uang atau kepeng hasil Enamo, biasanya digunakan untuk membeli hewan ternak, seperti ayam, itik, kambing, kerbau, dan atau sapi. Bila jumlah hasil Enamo cukup banyak, masyarakat Sasak biasanya memanfaatkannya untuk menyewa tanah garapan untuk dikelola.

Tradisi Enamo masyarakat Sasak ternyata berlangsung sampai sebelum kemedekaan. Tradisi ini terhenti karena antara tahun 1942 – 1943 terjadi paceklik yang sangat hebat di beberapa wilayah Nusantara, termasuk Lombok menjadi salah satu wilayah terdampak. Enamo memang telah menjadi sebuah kenangan, tetapi nilai-nilai gemar dan giat berinvestasi wajib kita jadikan sebagai amanah untuk kita lestarikan. Mari bangkitkan kembali ghiroh berinvestasi masyarakat Sasak. Jika tidak bangkit lagi berinvestasi, maka bukan sejatinya Masyarakat Sasak. Walluhu’alamu. 

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor,  dan tenaga pendidik di SMA NW Pancor.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • "Enamo", Miniatur Tradisi Investasi Masyarakat Sasak

Terkini

Iklan