728x90

ad

Senggigi, Potret Masa Lalu dan Pribumi yang Terdesak

DESTINASI ANDALAN: Kawasan Pantai Senggigi merupakan destinasi pariwisata andalan di Lombok Barat.
GERUNG--Kawasan pariwisata Senggigi merupakan satu dari beberapa maskot destinasi di Pulau Lombok. Hingga kini pun, kawasan Senggigi masih menjadi ikon andalan.

Perkembangan Senggigi sebagai daerah pariwisata relatif sangat cepat dibanding beberapa destinasi di Pulau Seribu Masjid. Tak heran jika sepanjang jalan menuju kawasan pariwisata ini tercatat puluhan, bahkan mungkin ratusan hotel dari berbagai kelas dengan mudah didapatkan.

Dalam perkembangan berikutnya, tidak saja hotel dan penginapan yang menjamur. Restoran, klub-klub hiburan malam dan spa juga tak kalah banyaknya.

Dulu, menyebut Senggigi selalu identik sebagai pantai tempat piknik. Belakangan, pergeseran cara pandang terhadap Senggigi mulai terasa. Perubahan ini kontras terasa sejak munculnya hiburan malam dan tempat "kenikmatan" lainnya. Tak jarang dalam cara pandang masyarakat menganggap Senggigi sebagai tempat melabuhkan hasrat duniawi.

Siapa sangka di tengah gelombang perubahan cara pandang itu, tidak banyak yang tahu bagaimana Senggigi di masa awal sebelum dikomersilkan menjadi komoditas pariwisata. Senggigi masa lalu tak lebih dari deretan dan bentangan tanah pesisir tidak produktif.

"Kebanyakan di pesisir Senggigi ini adalah tanah GG yang tidak bisa dimanfaatkan," tutur Sekretaris Camat Batulayar, Lombok Barat, Afgan Kusumanegara, Senin (22/6).

Pria kelahiran Desa Tegal Kecamatan Batulayar ini mengisahkan, untuk ke Senggigi, orang dulu seperti pergi ke hutan. Kawasan ini banyak ditumbuhi semak belukar dan terkesan angker.

Biasanya, orang yang hendak ke Senggigi pada masa itu tidak lebih untuk menangkap ikap di laut. Tidak terbersit dalam pikiran masyarakat kala itu jika kawasan ini justru akan menjadi salah satu destinasi utama di Pulau Lombok.

Memori masa lalu seperti itu, jelas Afgan, terjadi pada rentang waktu tahun 1970-an. Di mana masyarakat Senggigi kala itu masih menjadi tuan atas tanahnya sendiri. Tak heran jika saat itu kepemilikan lahan masih atas nama warga setempat.

Tak tanggung-tanggung, kepemilikan lahan kala itu mencapai hektaran luasnya. Karena wilayah itu merupakan tanah GG, hanya beberapa komoditas saja yang bisa ditanam.

"Paling-paling yang bisa ditanam adalah singkong dan kelapa," sebutnya.

Senggigi secara administratif merupakan satu wilayah di bawah pemerintah kecamatan Batulayar. Di awal mulai masuknya industri pariwisata di kawasan ini, masyarakat setempat seolah berlomba-lomba menjual lahan milik mereka.

Cerita tentang maraknya masyarakat setempat menjual lahan milik mereka disebutnya terjadi sekitar tahun 1980-an. Di mana saat itu satu per satu investor mulai membangun hotel di kawasan tersebut.

Sejak masyarakat menjual lahan kepada investor, spontan bermunculan orang-orang kaya baru di kawasan tersebut. Parahnya, kekayaan dari hasil jual lahan itu tidak dikelola dengan baik. Sebagian besar membelanjakan uang mereka untuk membeli sepeda motor dan mobil. Namun ada juga yang menggunakan uang mereka berhaji.

Sebagai penduduk asli di sekitar Senggigi, Afgan rupanya ingat betul dengan memori masa kecilnya tentang kawasan itu. Dulu di pertengahan tahun 1979-an, hotel yang pertama kali berdiri di kawasan ini adalah Sasaka Beach. Hotel ini terletak di sekitar Pantai Tanjung Bias.

Sayangnya, seiring perjalanan waktu, hotel tertua di Senggigi ini sudah hanya tinggal puing-puingnya saja. Tak tersisa sedikitpun dari bekas bangunan hotel itu yang bisa dimanfaatkan.

Setelah berdirinya Sasaka Beach, terangnya, menyusul hotel-hotel lain yang berdiri. Sedikitnya ada tiga hotel yang berdiri selepas Sasaka Beach beroperasi. Ketiga hotel itu yakni, Senggigi Beach (sekarang bernama Qilla), Intan Laguna (kini bernama Sentosa) dan Sheraton.

"Tiga hotel itulah yang mengawali adanya hotel-hotel yang lain di Senggigi," ucapnya.

Terhitung sejak berdirinya hotel dan ramainya investor, warga lokal setempat mulai tergiur menjual lahan milik mereka. Lahan yang dianggap tidak produktif itu dijual dengan harga relatif miring.

Apa yang dilontarkan Afgan, juga diamini oleh Camat Batulayar, Syahruddin. Pria yang juga warga asli wilayah itu membenarkan jika pada rentang tahun 1980-an, warga berlomba-lomba menjual tanahnya.

Tren menjual tanah oleh warga, tuturnya lantaran lahan yang mereka miliki kurang produktif. Akibat produktivitas yang kurang itu, berdampak terhadap taraf kesejahteraan masyarakat.

"Banyak orang kita yang memiliki lahan, tapi itu tadi, karena kurang produktif tidak begitu berdampak pada kesejahteraan ekonomi mereka," ujarnya.

Saat ramai-ramainya investor memborong tanah, ungkapnya, warga menjual lahan mereka dengan murah. Per are lahan dihargakan sekitar Rp 1-2 juta kala itu.

Sebelum investor datang, kisahnya, warga setempat selain menjadi nelayan, juga banyaknya membuat kapur dari bahan dasar terumbu karang. Kapur yang dibuat dari proses pembakaran itu diolah menjadi bahan bangunan.

Hanya saja, setelah masuknya investor, aktivitas pembuatan kapur perlahan mulai ditinggalkan. Tragisnya, warga yang dulu menjual tanah justru berbalik arah menjadi karyawan hotel dan restoran yang ada di tempat itu.

Gerak perubahan zaman terkait bisnis industri pariwisata rupanya tidak mampu ditangkap warga setempat. Alih-alih menjadi tuan atas tanah, warga justru semakin tertinggal. Mereka yang dulunya kaya karena menjual lahan, tak sedikit yang jatuh miskin.

Kondisi yang terjadi ini sangat disayangkan oleh Syahruddin. Terlebih saat awal popularitas Senggigi menanjak, intervensi pemerintah daerah tidak signifikan.

Infrastruktur pendukung dari sisi sumberdaya manusia belum dipikirkan kala itu. Kondisi ini disebutnya kian memperparah keadaan.

"Kalau sekarang kan kita sudah punya SMK Pariwisata. Ada jurusan tata boga dan yang lainnya. Semuanya untuk mendukung industri pariwisata ini," ucapnya.

Sebagai penduduk setempat, Syahruddin juga mengaku kesal dengan sikap pemerintah. Pemerintah tidak memberi intervensi serius dan berkelanjutan terhadap kawasan Senggigi.

Dengan gamblang ia menunjuk keberadaan Pasar Seni Senggigi. Pasar yang disebut sebagai aset Pemprov itu dinilainya salah peruntukan. Pemprov seharusnya mendelegasikan aset tersebut ke Pemkab Lombok Barat untuk dikelola.

"Pasar seni itu sekarang malah dipihakketigakan," kesalnya.

Dalam visi pikirannya, Syahruddin berharap jika pasar seni itu dijadikan sebagai sentra pertunjukan dan aktivitas kebudayaan. Semua kegiatan adat yang ada di Pulau Lombok dan NTB bisa dipertunjukkan di tempat itu.

Buntut dari tidak adanya lokasi pertunjukan, sambungnya, arah orientasi perkembangan pariwisata Senggigi tidak terarah. Tragisnya yang terjadi adalah pergeseran cara pandang dalam melihat Senggigi.

"Dulu Senggigi sebagai tempat piknik, sekarang malah kesannya Senggigi seperti tempat hal-hal yang negatif," tegasnya.

Andai sarana pertunjukan kebudayaan bisa difasilitasi di tempat itu, ia yakin cara pandang terhadap Senggigi tidak terjadi. Warga setempat juga bisa mempertahankan local wisdom (kearifan lokal) yang mereka miliki.

Imbas dari itu, imbuhnya, masyarakat Senggigi semakin terdesak oleh perubahan. Warganya menggantungkan mata pencaharian menjadi karyawan hotel, kafe restoran dan bisnis industri pariwisata lainnya. Sisanya, warga Senggigi masih bertahan sebagai nelayan dan pedagang.

Keluhan Syahruddin ini sangat beralasan. Dari sektor pajak hotel, restoran dan hiburan di Senggigi menyumbangkan sekitar 60 persen dari total pendapatan daerah Lombok Barat. Sementara 40 persen sisanya dikepung oleh kecamatan-kecamatan lainnya.

Agar tidak berlangsung proses alienasi warga pribumi, pihaknya bersama Pemkab Lombok Barat kini tengah berupaya menyeimbangkan citra kawasan Senggigi. Senggigi di masa depan tidak saja berkonotasi sebagai tempat hiburan, tapi kembali kepada marwahnya sebagai tempat liburan.

Upaya itu diantaranya penataan gapura masuk sebagai ikon simbolistik Senggigi. Ada juga penataan kawasan dan membuat struktur otoritas Senggigi dalam birokrasi Pemkab Lobar.

"Mungkin kedepan akan ada UPT khusus yang akan mengelola Senggigi," ucapnya.

Lewat cara ini, pihaknya berharap, visi yang ada dalam pikirannya bahwa Senggigi sebagai sentra pertunjukan kebudayaan bisa direalisasikan. Selain itu, kawasan Senggigi juga tidak melulu mengandalkan pantai, tapi juga sumberdaya alam yang ada di sekitarnya.

"Di tempat kita ini banyak bukit, ada juga air terjun. Kedepan itu yang kita kembangkan juga," tegasnya. (jl)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mantap ulasannya. Apalagi kalau ditambah dg kisah org tua di kawasan itu yg dulu punya hektaran tanah, kini tinggal jadi pedagang kecil dg gubuk reyot yg sebentar lg akan digusur. Ironisnya, tanah tempat ia numpang berdagang itu dulunya adalah tanah miliknya.

    BalasHapus