728x90

ad

Menyesap Misteri Wayang Wat di Kuranji Dalang

PEWARIS PUSAKA: Sahnan adalah generasi akhir ynag kini mewarisi pusaka Wayang Wat dari leluhurnya.

GERUNG--Wayang Wat. Begitulah sebutan warga terhadap wayang milik Sahnan. Kemasyhuran wayang ini sudah sering terdengar di banyak tempat.

Konon, di pengujung abad 18 di masa pendudukan Kerajaan Bali Karangasem di Pulau Lombok, wayang ini sudah ada. Di masa itu, wayang tersebut sudah terbiasa digunakan menggelar pertunjukan-pertunjukan saat Raja Anak Agung masih berkuasa.

Disematkannya nama Wat di belakang nama wayang itu lantaran kemampuan yang dimiliki. Wayang tersebut diyakini bisa menjadi obat bagi sejumlah penyakit.

"Beberapa penyakit yang biasa diobati seperti stres, depresi, panas demam dan penyakit-penyakit lainnya," ungkap pria kelahiran 12 Agustus 1961 ini saat ditemu Jejak Lombok di kediamannya di Desa Kuranji Dalang, Labuapi Lombok Barat, Sabtu (20/6).

Secara etimologis, wat merupakan padanan kata medo yang berarti obat. Dua padanan kata ini merupakan bahasa Sasak (suku di Pulau Lombok).

Sebenarnya, tutur Sahnan, tidak ada yang istimewa dari wayang pusaka yang diwarisinya ini. Bahan dasar pembuatannya sama dengan wayang-wayang lain yang terbuat dari kulit. Hanya saja, kelebihan wayang yang diwarisi dari leluhurnya itu memiliki kemampuan mengobati beragam penyakit.

Pria yang ditinggalkan istrinya merantau ke Timur Tengah ini menuturkan, wayang yang itu kini disimpannya dengan rapi. Terakhir kali wayang ini dikeluarkan untuk pertunjukan saat ia masih memiliki dalang.

"Dalang terakhir yang membawa wayang ini berasal dari Mapak. Namanya Wasiah," ungkapnya.

Namun sejak Wasiah tidak lagi berkeliling pentas, wayang sudah jarang keluar dari tempat penyimpanannya. Wayang ini baru dikeluarkan ketika ada orang yang hendak berobat saja.

Untuk bisa mengeluarkan wayang itu dari tempat penyimpanannya, beber Sahnan, terlebih dahulu harus melalui proses ritual. Tidak sembarang orang bisa melihat, membuka dan apalagi menyentuh wayang kulit itu.

Jika dikeluarkan tanpa melalui proses ritual, tuah wayang ini akan menghampiri orang yang membukanya. Tidak jarang tuah wayang ini menyebabkan orang yang nekat akan mengalami bengkak pada bagian tubuhnya. Atau jika tidak, orang bersangkutan akan sakit.

"Hanya sekitar itu yang saya tahu tentang wayang ini," ungkapnya.

Sahnan tak berkenan bercerita banyak tentang wayang pusakanya itu. Keengganannya bercerita lantaran ia sendiri mengaku kehilangan jejak silsilah keluarga. Praktis, ia tidak mengetahui banyak bagaimana ihwal wayang itu hingga sampai ke tangannya.

Bahkan ketika Jejak Lombok meminta agar ditunjukan wayang itu, Sahnan juga tidak berkenan. Alasannya, selain harus melalui proses ritual, bekal batin wartawan media ini dianggap tidak mencukupi.

Malahan ketika sekedar meminta untuk mengambil foto wayang inipun, Sahnan menolak. Mengeluarkan wayang dari tempat penyimpanannya harus tetap melalui ritual.

"Sama saja itu. Semoga lain kali Anda dilerkenankan melihat wujudnya (wayang)," ungkapnya.

Kendati menyimpan wayang, dirinya mengaku tidak bisa mendalang. Bahkan, ayah dan kakeknya pun tidak memiliki kemampuan yang sama. Terakhir dari generasi garis keluarganya, kemampuan mendalang dimiliki sang buyut. Selepas itu, kemampuan tersebut sudah punah.

Buntutnya, wayang tersebut hanya menjadi bahan koleksi dan disimpan rapi. Sementara Wasiah yang membawa wayang itu untuk pertunjukan harus melalui izin dirinya.

"Makanya kalau dia akan melakukan pertunjukan, saya selalu ikut. Jika tanpa seizin saya, dia tidak berani menyentuh wayang itu," ucapnya.

Dulu di awal-awal, wayang yang disimpannya ini berjumlah sekitar 200 unit. Kini yang tersisa tak lebih dari 40 unit. Berkurangnya jumlah kolek wayang itu tidak lain karena faktor usia. Tidak sedikit dari wayang itu yang sudah rusak. Namun demikian, semua wayang itu masih tetap berada dalam penyimpanannya.

Pria yang mengaku leluhurnya berasal dari Suradadi, Terara Lombok Timur ini menuturkan, Wayang Wat tidak saja dikenal di Lombok. Popularitasnya bahkan sampai ke luar negeri.

Konon, wayang yang disimpannya ini merupakan wayang pertama di Pulau Lombok. Usianya sudah lebih dua abad. Tak heran jika wayang-wayang tersebut sudah banyak yang tidak dan lapuk.

Apa yang dilontarkan Sahnan diamini beberapa tetangganya. Tidak sedikit yang mendatangi kediaman Sahnan untuk berobat melalui media wayang yang kini disimpannya itu. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar