Millenial Rentan Terpapar Radikalisme dan Terorisme

SOSIALISASI: Senator asal NTB, H Sukisman Azmy (tengah) saat sosialisasi empat pilar.

SELONG
-- Persoalan pemahaman konsep kenegaraan bukanlah pepesan kosong belaka. Buktinya banyak yang lupa akan bunyi landasan bernegara.

Masalah itu tak hanya menghinggapi orang tua. Namun juga generasi muda, terutama setelah reformasi.

Kondisi itulah yang disampaikan salah seorang anggota DPD RI asal NTB, H Achmad Sukisman Azmy. Hal itu disampaikan saat menggelar sosialisasi empat pilar di Desa Montong Tangi, Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur, Kamis (8/4).

Menurutnya, perang kelurga sangat penting dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

"Lingkungan keluarga itu sangat penting untuk memfilter anak," ujarnya.

Belakangan ini, kata dia, pelaku yang diduga teroris kebanyakan dari kalangan muda. Mereka ini tidak sedikit yang mendapatkan informasi tidak benar.

Menurutnya, generasi pasca reformasi, apalagi kaum millenial sangat rentan dengan hal tersebut. Sebab, kemajuan teknologi membuat mereka cepat berinteraksi dengan dunia luar.

Ia menjelaskan, di media sosial saat ini. Informasi sangat mudah didapatkan. Apalagi yang berbau agama, yang kemudian ditelan mentah tanpa mengkaji terlebih dahulu.

Di lain sisi, ujar Sukis, lemahnya pemahaman tentang pilar negara menjadi salah satu faktor pemahaman berkenegaraan yang salah.

"Kemarin di Bima ada 5 orang ditangkap terduga teroris. Semoga kita di Lombok tidak generasi muda kita tidak ada seperti itu," ucapnya.

Faktor lainnya, bebernya, yakni luas negara Indonesia yang disebutnya sangat luas. Buntut dari itu, tentunya negara ini akan sangat rawan untuk dipecah belah.

Ia merincikan, Indonesia memiliki 17.504 pulau, 1.340 suku, 652 bahasa dan tersebar di 34 provinsi. Dengan daratan selaus 1.922.570, dan lau seluas 3.257.843 kilometer persegi.

Karena itu, faktor keamanan itu menjadi poin penting. Kendati jumlah aparat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan luas laut dan darat.

Ia menerangkan, negara ini tak merdeka lantaran satu suku, ras, dan agama. Namun semua pihak terlibat.

Terlebih kemerdekaan ini juga merupakan peran pemuda dalam waktu itu. titik balik leran itu dengan terjadinya peristiwa Rengasdengklok.

"Soekrno diculik dan diminta memproklamirkan kemerdekaan oleh kaum muda pada waktu itu," ujarnya.

Negara ini, lanjutnya, harus dipertahankan dengan mencontohkan kerajaan zaman dulu. Dimana sampai dengan berabad-abad lamanya. 

Seperti kerajaan Tarumanegara yang berdiri sejak abad 4 sampai dengan 7. Lalu dilanjutkan dengan Sriwijaya, 7 sampai 14, baru muncul Majapahit dan Demak.

"Jadi kita perlu mencotohkan kerajaan zaman dulu, kekuasaannya sampai berabad-abad," ujarnya.

Di kesempatan itu, dirinya meminta agar semua desa membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai wadah usaha. Ini karena pihaknya tengah mendorong adanya undang-undang yang hendak mengatur tentang BUMDes dan kepulauan.

Ia mencotohkan, Desa Kembang Kuning yang pernah menyabet juara satu tingkat nasional tahun lalu. Salah satu perkembangan desa itu disebutnya melalui badan usaha desa itu.

"Dan pemuda harus mengambil peran, kita beeharap pemuda membangun BUMDes," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar