Jejak Terkini

Bejango Bliq, Napak Tilas Komunal Berdimensi Psikospiritual Orang Songak

Oleh: Mastur Sonsaka

SALING
menjenguk dan mengunjungi merupakan aktivitas lumrah dihampir semua peradaban. Sebagai makhluk sosial, manusia memang telah ditakdirkan untuk saling terhubung, tergantung dan saling membutuhkan satu sama lain. Tentu saja ketergantungan, keterhubungan dan butuh membutuhkan ini bisa ditafsir sebagai keluhuran asasi manusia dan atau sebaliknya hanya sekedar cara manusia mempertahankan spesiesnya. 

Bagi para ilmuan, pengkhotbah perspektif struktural-fungsional, saling tergantung, saling terhubung dan saling membutuhkan. Ini cermin sifat dasar manusia sebagai makhlus sosial yang bermuara pada upaya kohesi sosial. Hardjana (2003) bahkan menyebut hubungan yang buruk dengan orang lain dapat mengganggu kesehatan mental individu dan dapat menimbulkan gejala psikosomatik. 

Sebaliknya, bagi perspektif struktural-konflik kecenderungan ini tidak lebih dari sekedar upaya koersifikasi individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain, tidak ada keluhuran manusiawi disitu. Bahkan dalam perspektif ekonomi, keterhubungan manusia hanya akan berlaku jika memiliki dampak ekonomis. Saling menjenguk dan mengunjungi ini dalam terma Sasak disebut ”bejango”.

Ada “bejango” berdimensi profan duniawi, ada yang berdimensi sakral spiritual dan ada pula yang berdimensi sakral kultural. 

Sebagai sebuah terma, “bejango” dapat dipadankan dengan terma silaturrahim, mengunjungi dan atau menjenguk. Dalam praktiknya, memang terlihat sepele dan sederhana namun efek sosiologis yang ditimbulkan sangat efektif dalam menjaga harmoni berdimensi ilahiah, insaniah dan alamiah. 

Dalam dimensia ilahiah “bejango” memastikan manusia dengan Tuhan selalu terhubung dalam bentuk aktivitas ibadah nahdoh yakni mengunjungi rumah ibadah. Dimensi insaniah merekatkan hubungan sosial antar suadara, tetangga dan warga bangsa. 

Dimensi insaniah ini bergelaut bergelindan dengan praktik-praktik adat istiadat sebagai upaya memelihara harmoni sosial dan kultural dalam berbagai bentuknya. Sebut saja aktivitas mengunjungi orang sakit, mengunjungi keluarga yang melahirkan, mengunjungi keluarga yang hajatan hingga mengunjungi keluarga yang ditimpa musibah kematian, dan semua aktivitas saling mengunjungi ini secara kultural dianggap sebagai “hutang tanpa tagihan”, apa itu “hutang tanpa tagihan”? tunggu ulasannya pada tulisan yang lain. 

Adapun dimensi alamiah tergambar dalam praktik ritual budaya orang Sasak yang mengikatkan diri dengan situasi dan fenomena alam seperti ritual “neda” dan “sentulak” di Songak, “begawe musim kembalit” di Sakra, “selamatan laut” di Tanjung Luar, “roah segare” di Lombok Barat hingga yang paling tersohor “bau nyale” di laut selatan Lombok dan “rebo bontong” di Kecamatan Pringabaya.

Bejango Bliq merupakan terma khas yang disematkan pada even budaya tahunan orang Songak yang dimulai sejak tahun 2012. Tentu saja sebagai bejango yang bliq (akbar, red), ia menjadi peragaan budaya yang inhern dimensi ilahiah, insaniah, alamiah, sakral spiritual dan sakral kultural sekaligus.

Terma ini muncul untuk mengagregasi kegiatan ritual bejango reguler orang Songak yang terleksana setiap hari senin dan kamis bagi mereka yang berhajat. Bentuk ritual bejango reguler ini adalah mengunjungi Masjid Kuno dan Makam Keramat Songak dengan membawa “sesangan” dan “sanganan”. Masjid Kuno merupakan simbol ikatan historis, spiritual-transendental atas asal usul orang Songak dan Makam keramat sebagai akhir kefanaan nenek moyang yang moksa di tempat tersebut. 

Pesan nenek moyang agar berkunjung (bejango) setiap mengalami kesusahan, penyakit dan lain sebagainya dengan membawa “sesangan” dan “sanganan” yang ditanamkan secara turun temurun sejak ratusan tahun silam lestari sampai hari ini. Sesangan merupakan serumpun hasil alam dan olahan, sedangkan sanganan adalah makanan berupa aneka buah dan nasi.

Seiring perkembangan zaman dan persebaran penduduk.

Oleh wartawan senior, Ahmad JD orang Songak dibagi menjadi dua yakni Songak origin dan Songak Dataran. Songak origin adalah orang Songak yang bertahan dan menetap di wilaya administratif Desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur. Sedangkan Songak dataran adalah orang Songak yang telah menyebar ke berbagai penjuru pulau Lombok bahkna luar pulau Lombok. Reinvensi ritual bejango menjadi “bejang bliq” ini memungkinkan orang Songak dataran memiliki ruang untuk melakukan napak tilas psikospiritual secara komunal.

* Penulis adalah dosen pengajar di IAI Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur.

Posting Komentar

0 Komentar