Jejak Terkini

ENDEK MAN MUNI GONG WAH NGENGGET

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd


(Perspektif Klasik Masyarakat Sasak Terhadap Sikap Tergesa-Gesa)


“Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuk.” Adalah bunyi ketukan sepatu kuda yang bernada. Demikian gubahan kusir sang pengendali yang dengan mahir mengaransir nada-nada derap  langkah kuda. Ia sesekali menghentak dan berdehem, bahkan membunyikan lonceng, seolah berinprovisasi. Harmoni menjadi berasa dan jarak tempuh tak terasa. Penumpang  riang dan dengan dada lapang membayar tumpangan dengan keping-keping uang. Sang kusir pun bersenandung senang sembari kembali pulang.

Ilustrasi yang dilengkapi dengan simbolisasi sado atau dokar, sais, kuda, penumpang, dan suasana yang mempesona di atas, mengingatkan kita pada tayangan iklan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sekitar akhir tahun 1970 sampai awal 1980. Ya, sebuah genre film “kartun” berdurasi 2,5 menit dengan ending sebuah kalimat cut off cantik nan bijak, “Teliti Sebelum Membeli, Mana Suka Siaran Niaga”

Dalam kalimat bijak di atas, bagian ungkapan “Teliti Sebelum Membeli” terasa cukup seksi. Kalimat “Teliti Sebelum Membeli” mengandung nilai-nilai yang luhur dan mulia. Dalam kalimat ini terdapat habits yang mencirikan perilaku masyarakat modern atau berpendidikan. Singkatnya, “Teliti Sebelum Membeli” adalah kalimat bijak yang menarik. Inilah yang menjadi reason atau argumentasi kuat untuk menguraimya dalam analisis sederhana yang moga-moga menghadirkan makna yang dapat dijadikan salah-satu way of life.

Beberapa orang pakar dan reader telah mencoba membedah kandungan pesan dalam kalimat bijak di atas. Usaha mereka membuahkan hasil. Para pakar dan reader menemukan beberapa nilai-nilai prinsipil. Mereka memperoleh informasi bahwa ungkapan “Teliti Sebelum Membeli” merupakan rumusan yang mengusung beberapa ajaran, yaitu: Pertama, pentingnya kecermatan sebelum melakukan internalisasi nilai dalam ide dan tindakan. Kedua, perlunya refrence yang cukup dan sahih dalam proses penentuan keputusam dan tindakan. Ketiga, Strategisnya sikap sabar dalam memilih momentum yang tepat untuk melaksanakan keputusan-keputusan penting. Keempat,  sebuah Rantus (Rancangan Keputusaan) maupun Rantap (Rancangan Ketetapan) akan semakin solid dan sahih jika bersifat Corrigibility (terbuka untuk dikritik).

Group music “Juicy Luicy”  yang ber-genre POP, ternyata pernah pula mengurai dengan indah ungkapan “Teliti Sebelum Membeli.” Dalam sebuah syair lagu yang bertajuk Tanpa Tergesa-gesa, group “Juicy Luicy” menguntai diksi-diksi yang kemudian terformat menjadi symbol-simbol perilaku “Teliti Sebelum Membeli.” Untaian diksi tersebut adalah: “Jaga dulu jarak kita, jika tak ingin akhirnya kau menangis lagi. Jangan terlalu kau dekat. Jangan buat terikat. Coba kau rasakan lagi. Mungkin kau dapat perannya, tapi hanya sebagai bayang-bayangnya saja. Jangan minta jatuh cinta. Luka lamaku juga belum reda. Beri dulu aku waktu untuk sembuh sendiri. Jangan minta jatuh cinta. Sakit sebelumnya masih kurasa. Beri aku waktu hingga aku mampu lupakan semua.” 

Anasir-anasir di atas menggambarkan bahwa esensi ungkapan “Teliti Sebelum Membeli” adalah menakar secara seksama seluruh ide dan tindakan. Menakar ungkapan “Teliti Sebelum Membeli” ini tentu sangat penting. Setidak-tidaknya, usaha menakar akan menghadirkan sebuah pertimbangan yang rasional bagi setiap manusia, misalnya: Pertama, konsistenskah atau se-arahkah ide dan tindakan dengan kebenaran absolute?. Kedua, terjaminkah koneksitas dan integritas ide maupun tindakan dengan aspek-aspek strategis dalam suatu system kehidupan disekitarnya? Ketiga, dapat atau tidakkah ide dan rencana tindakan diimplementasikan dalam kehidupan social yang dinamis?

Menakar dengan maksud mendapatkan pertimbangan yang rasional. Tentu tidak dapat dilakukan secara random atau rambang. Jarus menggunakan appliance atau peranti yang relevan. Demikian pula dengan ikhtiyar menakar  esensi ungkapan “Teliti Sebelum Membeli.” Bagi author, untuk mendapatkan beberapa pertimbangan rasional terkait esensi ungkapan “Teliti Sebelum Membeli,” cukup sepadan jika menggunakan  peranti atau pisau bedah dan indicator yang termuat dalam teori konsistensi, koherensi, dan correspondence.

Menakar esensi ungkapan “Teliti Sebelum Membeli” dengan peranti sebagaimana disebutkan di atas, insyaalloh akan dapat meng-explor konsistensi, koherensi, dan correspondence-nya. Ketika konsistensi, koherensi, dan correspondence-nya tereksplor, maka setiap individu manusia dapat dengan mudah menilai ide dan tindakannya. Mereka  akan terbantu untuk mengkategorikan sebuah ide dan tindakan ke dalam kelompok yang manfaat atau, mudharat. Dengan keunggulan ini, sifat kemanusiaan individu akan dengan mudah menentukan opsi dan tak akan ambigu atas dua jalan yang disediakan-Nya sebagaimana diterangkan dalam QS. As-Shaams Ayat 8. “fahal-hamaha fujuroha wataqwaha”.

Manakala mekanisme pengambilan keputusan setiap orang melewati siklus yang intinya membuka ruang petimbangan yang seksama atau yang setara dengan ungkapan “Teliti Sebelum Membeli.” Maka index kegagalan sekaligus penyesalan akan dapat ditekan sekecil-kecilnya. Artinya, rerata individu manusia akan mampu mewujudkan goal attainment-nya. Pelbagai prestasi akan lahir dan tentu akan diikuti oleh perubahan yang positip dan signifikan.

Sikap “Teliti Sebelum Membeli” ternyata tidak mudah. Kecerobohan, kecenderungan buru-buru  dan atau ketergesa-gesaan yang kontra produktif dengannya sulit dihindari oleh sebagian banyak manusia. Mereka seperti terkejar-kejar atau bahkan tampak bernafsu mengejar-ngejar target. Kata para petarung jalanan, manusia hidup seperti “Nguber Dolar dan Ngejar Setoran.” Kecenderungan ini sering kali mematikan kepekaan dan ruang-rung koreksi maupun kecermatan. Akibatnya mengemuka nihilisasi ketelitan sebelum penentuan keputusan.

Kecerobohan, kecenderungan buru-buru, dan atau ketergesa-gesaan lebih ke trial and error. Keberhasilan pendekatan ini hanya karena keberuntungan. Artinya probabilitas keberhasilannya sangat rendah. Hal ini tentu sangat berbahaya, apalagi jika tekait dengan penentuan keputusan yang menyangkut keselamatan atau kelangsungan hidup manusia, kemerdekaan sebuah bangsa sekaligus Negara, dan lain-lain.

Kecerobohan, kecenderungan buru-buru  dan atau ketergesa-gesaan manusia ternyata Alloh nyatakan pula dalam firman-Nya, yaitu pada QS. Al-Isro’ Ayat 11 yang artinya: “Dan manusia meminta untuk kejahatan sebagaimana ia meminta untuk kebaikan. Sementara manusia memang berwatak tergesa-gesa. Dalam salah satu sumber, para mufassir memberikan beberapa penjelasan terkait ayat ini. Di antara penjelasan tersebut adalah: Petama, fitrah manusia pada dasarnya senantiasa berusaha memperjuangkan kebaikan dan capaian yang bermanfaat. Namun demikian, dalam proses pencapaian, manusia sering gagal melawan sifat buru-buru dan kebiasaan abai dalam menakar dan mempertimbangkan ide maupun tindakan. Konsekuensinya, keterburu-buruan membuat manusia tak jarang keliru. Sayangnya, dalam kekeliruan tersebut. mereka merasa memilih keputusan yang benar. Dengan kata lain, ketergesa-gesaan manusia dapat mengaburkan qolbun salim maupun akal sehatnya. Ujung-ujungnya, manusia memperjuangkan kesesatan atau kekeliruannya secara membabi-buta, bahkan berdarah-darah, sampai kemudian ia kehilangan arah. Kedua, mufassir sepakat bahwa tergesa-gesa dalam ayat ini diyakini sebagai sebab kegagalan dan kehancuran manusia.

Bedasarkan pendapat para mufassir di atas, maka sifat buru-burum tergesa-gesa, atau yang telah kita sepadankan dengan ungkapan “Teliti Sebelum Membeli,” adalah sesuatu yang riskan. Manusia niscaya belajar menghindarinya. Keniscayaan ini tidak debatable. Semua nalar memiliki pandangan yang sama, tidak terkecuali nalar masyarakat Sasak. Buktinya adalah, dalam nalar masyarakat Sasak terdapat suatu ajaran yang setara dan semakna dengan ungkapan “Teliti Sebelum Membeli.” Nalar masyarakat Sasak tersebut adalah“Endek Man Muni Gong Wah Ngengget.”

Jika ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan sepadan dengan “ Sebelum gong tertabuh, para penari berlenggak-lenggok mencuri start.” Dalam makna tekstual, ajaran ini mempertontonkan anomaly atau mungkin juga kekonyolan para penari. Bagaimana rupanya lenggak-lenggok para penari tanpa iringan gendang para penabuh pada pandangan pertama para penonton dalam sebuah pementasan? Tentu irama akan kacau mengejar gerak atau mungkin juga gerak akan stagnant menunggu harmony tetabuhan pengiringnya. Pastinya aksi panggung akan tak elok dan memalukan. 

Secara inplisit, ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” merupakan sebuah sarkasme terhadap ketergesa-gesaan atau sifat buru-buru yang mengabaikan keniscayaan untuk mempertimbangkan sesuatu secara seksama. Lebih lanjut, makna yang dikandusng ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” adalah sindiran  terhadap sikap manusia yang seringkali bertindak pada saat yang tidak tepat, bahkan premature. Dalam nalar Sasak yang diyakini sejak era “halal lepang” (dahulu kala), memandang setiap keputusan premature memiliki probabilitas yang tinggi pada posisi kontra-produktif dengan consistence, coherence, and correspondence. Selain itu, tindakan dan atau ide premature ini di-labeling  oleh nalar Sasak “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” sangat labil dan tidak akan berhasil menjadi jembatan menuju harapan.

Mencermati penjelasan-penjelasan sebelumnya, maka ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” yang sepadan dan sebangun dengan “Teliti Sebelum Membeli,” sepatutnya dijadikan lentera, khususnya dalam berproses mewujudkan ekspektasi. Perlu dicamkan, ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget” tidak hanya sekedar soal timing, tetapi soal keluasan samudera ilmu pengetahuan yang akan menjadi dasar pertimbangan penting bagi seseorang untuk memutuskan pilihan-pilihan ideology sebagai dasar tindakan yang hebat dan kuat. Kata lain dari ajaran “Endek Man Muni Gong Wah Ngengget”  adalah PERKUATLAH LITERASIMU! Wallohu’lamu.

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMA N 2 Selong

Posting Komentar

0 Komentar