Bebubus Batu, Ritual Meminta Restu Langit dari Warga Sapit

Prosesi ritual Bebubus Batu di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur.


SELONG—Selimut awan tebal menggantung tampak begitu dekat pada jalanan yang terus menanjak. Sesekali kebisuan langit dipecah suara gemuruh. Tak berselang lama, rimis pun berjatuhan.

Sepanjang hotmik yang dilintasi. Kiri kanannya terlihat sawah-sawah terasering terusun rapi. Sebagian besar di petak-petak yang ada, tanaman padi terlihat menghijau. Hanya beberapa petak saja yang ditumbuhi tanaman lain seperti tembakau dan palawija.

Siang itu selepas Jum'at (7/8). Warga Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur lebih memilih berada di rumah. Petak-petak sawah mereka masih terlihat lengang setelah ditinggalkan beribadah di masjid. Para petani belum ada yang kembali turun ke lahan milik mereka.

Biasanya, Jum'at merupakan hari yang istimewa bagi warga di desa. Tidak sedikit dari mereka yang memilih libur turun ke sawah. Kendati begitu, ada pula yang tetap menyambangi sawahnya. Jum'at oleh warga desa biasanya dianggap hari yang pendek.

Namun berbeda dengan Sukiman. Ia sepertinya satu dari banyak warga Desa Sapit yang memilih menyambangi lahannya hari itu.

Saat disambangi JEJAK LOMBOK, selang air berwarna hijau masih dalam genggamannya. Ia terlihat sibuk menyirami tanaman bunga di depan kedai yang tengah dibuatnya.

Sukiman yang dikenal sebagai mangku (tokoh adat) di desa itu rupanya cukup peka dengan perkembangan bisnis pariwisata. Di lahan miliknya yang terletak di pinggir jalan hotmik tengah dibuat kedai kopi berbahan padanan bambu.
Menyadari adanya tamu yang datang, Sukiman bergegas melepas selang airnya. Seutas senyum pun dilepaskan sebagai sambutan atas datangnya sang tamu.

Sadar waktu sudah mulai cukup sore dan beranjak menuju petang. Selepas berjabat tangan, Sukiman meminta izin menunaikan Salat Ashar sembari meminta tamunya menunggu.

Sekitar 4 menit berselang, Sukiman selesai melaksanakan ibadahnya. Pria 50an tahun ini banyak bercerita tentang kondisi pertanian dan budaya masyarakat setempat.

Dari penuturan pria ramah ini pula tradisi Bebubus Batu yang diselenggarakan setiap tahun oleh warga setempat banyak didapat penjelasan.

Tradisi ini, tuturnya, diperkirakan sudah ada sekitar 760 tahun yang lalu. Nenek moyang mereka melaksanakan ritual ini untuk meminta “restu langit” agar tetap diberikan air hujan untuk tanaman padi mereka.

“Tradisi ini dilakukan di Dusun Batu Pandang. Di sinilah orangtua kami pertama kali menanam padi,” ucapnya.

Lumrah menjadi pengetahuan warga setempat, Dusun Batu Pandang di masa lalu selalu menjadi dusun pertama yang menanam padi di empat kekadusan di desa itu. Bila warga Dusun Batu Pandang belum bercocok tanam, dipastikan tiga dusun yang lain tidak berani melakukannya.

Tiga kekadusan lain yang ada di Desa Sapit yakni Dusun Sapit, Montong Kemong dan Batu Cangku. Ketiga dusun ini selalu menunggu proses tanam padi dimulai di Dusun Batu Pandang.

“Hingga sekarang proses ini masih terus berjalan. Kalau Dusun Batu Pandang belum memulai cocok tanama, dusun yang lain juga tidak berani,” ucapnya.

Sukiman tidak tahu persis bagaimana peristiwa ritual Bebubus Batu dimulai. Yang jelas, tradisi ini diketahuinya sudah dilaksanakan turun temurun hingga sekarang.

Sebagai pemangku di desa itu, Sukiman mengaku dipercaya memimpin ritual adat tersebut. Dalam proses penyelenggaraannya, ritual itu dilaksanakan di Dusun Batu Pandang.

Sebelum ritual berjalan, warga Desa Sapit beramai-ramai membawa sesaji masing-masing dalam nampan berukuran besar. Sesaji itu setelah ritual selesai dimakan bersama oleh semua warga yang hadir.

“Hanya satu nampan suguhan sesaji yang tidak kita konsumsi. Itulah yang kita buat menjadi Bubus,” ucapnya.

Bubus oleh warga suku Sasak (penduduk asli Lombok) merupakan racikan obat-obatan. Namun bubus yang dibuat oleh warga Desa Sapit ini dihajatkan menjadi obat bagi tanaman.

Sehari setelah peristiwa ritual, pada malam hari menjelang esok pagi, sang mangku memanfaatkan isi dulang (nampan sesaji) yang tersisa itu sebagai bubus. Segala jenis makanan yang ada di nampan itu ditambahkan dengan sejumlah dedaunan yang dipercaya sebagai pengusir hama.

Dari padanan bahan baku itu kemudian ditumbuk halus. Racikan inilah yang dinamakan bubus.

“Tapi nama Bebubus Batu kita ambilkan dari nama tempat dimana kita membuat bubus ini, yakni di Batu Pandang,” tuturnya.

Keesokan harinya, warga beramai-ramai mendatangi rumah mangku. Racikan yang telah dibuat menjadi bubus itu dibagikan kepada masing-masing warga yang memiliki lahan sawah. Bubus ini kemudian dilarung atau dihanyutkan pada saluran irigasi yang ada.

Warga berharap dengan melarung bubus pada aliran air irigasi yang mengalir, lahan yang ditanami padi tidak dihinggapi hama. Dengan demikian, tanaman padi mereka tumbuh subur tanpa gangguan hama-hama sawah seperti wereng dan tikus.

Sukiman menjelaskan, tidak ada penentuan waktu bagi penyelenggaraan ritual Bebubus Batu. Yang jelas, ritual ini hanya boleh dilaksanakan pada Hari Rabu. Selain hari itu, ritual ini menjadi pantangan.

Biasanya, prosesi ritual Bebubus Batu dilaksanakan setelah semua lahan petani sudah ditanami padi. Ritual itu baru boleh dilaksanakan setelah padi-padi tampak menghijau di sepanjang hamparan sawah warga.

“Dalam ritual ini, kita berdoa kepada Allah Swt agar tanaman padi kita subur dan diberikan hasil panen yang baik. Dengan bubus yang kita hanyutkan di air, kita berharap agar padi yang kita tanam dijauhi gangguan hama,” tegasnya.

Selepas musim panen, warga meluapkan rasa syukurnya dengan Kembali melaksanakan ritual adat. Hanya saja, ritual pasca panen ini disebut Bebadak Pengkayak.

Seperti halnya ritual Bebubus Batu, Bebadak Pengkayak juga dilaksanakan di tempat sama. Dalam ritual ini warga juga menyertakan sesaji yang akan dinikmati untuk dibagi Bersama seluruh warga yang hadir.

Sementara itu, Pjs Kades Sapit, Sainep mengatakan, tradisi Bebubus Batu merupakan warisan luhur nenek moyang mereka. Tradisi ini sebagai bentuk penghormatan warga terhadap tanah, terhadap bumi.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya tradisi ini. Di berbagai tempat di masyarakat yang dikenal agraris, ada juga ritual serupa dengan penyebutan yang berbeda,” ucapnya.

Di masyarakat Suku Dayak misalnya, tradisi serupa dikenal dengan Nyobeng. Di Jawa Tengah, khususnya di Kebumen tradisi serupa disebut Wiwitan. Sementara di Flores disebut dengan tradisi Wreri Mata Nii dan di Bali disebut dengan tradisi Nandur.

Di Desa Sapit saat ini, terangnya, ada seluas 150 hektar lahan pertanian. Sebagian besar dari lahan sawah itu tersusun berundak (trasering).

Di desa berpenduduk sekitar 1.645 jiwa ini, tradisi Bebubus Batu sepenuhnya menjadi ritual yang dilaksanakan warga. Tidak ada intervensi dari pemerintah desa setempat.

Bagi Sainep, tanpa intervensi pemerintah desa pun, ritual ini tetap terselenggara. Ini karena warga menyadari tradisi itu merupakan upacara yang dilaksanakan turun temurun.

Namun demikian, pemerintah desa disebutnya tetap membantu dalam hal promosi dan sosialisasi. Pemerintah desa disebutnya sangat berkepentingan dengan ritual itu lantaran bisa menjadi khazanah dan kekayaan budaya warga setempat. Terlebih dari sisi pariwisata, tardisi semacam ini sangat layak disiarkan kepada khalayak. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar