728x90

ad

Sotoh, Membedah Infiltrasi yang Nyaris Membobol Aqidah Orang Sasak

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

SETIAP zaman ada trend-nya dan setiap trend ada zamanya. Semua mengikuti trend perubahan dan dipastikan tak ada yang abadi. Perubahan akan terhenti ketika pelaku perubahan itu mati. Kaedah “tak ada yang abadi”, berlaku pula untuk life style. Ia selalu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Laksana mode, hari ini menjadi pilihan, bisa jadi besok lusa hanya sekedar menjadi pajangan. Zaman, trend, mode, dan peradaban, merupakan sesuatu yang dinamis sepanjang masa. Zaman, trend, mode, dan peradaban yang terakumulasi dalam life style, akan terformat klasik dalam sejarah masa lalu, menjadi pujaan masa kini, dan menjadi obsesi menapaki era yang akan datang.


Pergeseran peradaban yang senantiasa beriringan dengan denyutan life style manusia, ternyata dalam pengendalian Yang Maha Sempurna. Dia-lah Yang Maha Kuasa menjadi pelaku perubahan utama dan sesungguhnya. Manusia hanya bekerja selaku agent of change dalam ruang kreatifitas. Perubahan yang dimotori manusia, terbatas pada pemberdayaan al-quwwah an-natiqoh, yaitu sebuah alat kelengkapan yang menempatkan dia menjadi ciptaan Alloh yang paling sempurna.


Alloh SWT berfirman dalam QS. An-Nisa Ayat 119, “ Dan Aku akan benar-benar menyesatkan mereka, juga membangkitkan angan-angan kosong mereka, memerintahkan untuk memotong telinga binatang ternak dan mereka akan benar-benar memotongnya, Aku pun akan perintah mereka merubah ciptaan-Ku, dan mereka akan benar-benar merubahnya pula. Barang siapa yang menjadikan syaitan sebagai pelindung selain Alloh, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.


Pada ayat di atas, fenomena dan peristiwa “perubahan” disebut dengan kata  ghayyara-“yughaiyyiru” - taghyyaran.  Dalam kamus Al-Munawwir, kata “yughaiyyiru”  diartikan sebagai peristiwa merubah, mengganti, dan menukar. Sedangan Ibnu Faris mengartikannya dengan dua makna, yaitu: Pertama, shalihun (perbaikan), islhah (reformasi), dan manfaat (guna). Kedua, ihktilaf ala syayaini (perbedaan antara dua hal).  Dalam al-Mu’jam al-Mufahras Li al Fadz al-Qur’an al-Karim, yang ditulis oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqi’, kata “yughaiyyiru” terulang sekitar 7 (tujuh) kali pada lima ayat dalam Alqur’an. Hal ini disebabkan karena pada 2 (dua) ayat  dalam al-Qur’an,  kata “yughaiyyiru” berulang-ulang sebanyak (2) dua kali. 


Pendalaman kata “yughaiyyiru” sangat penting dalam artikel ini. Dengan pendalaman yang cukup terhadap kata “yughaiyyiru” , penulis dapat memastikan hadirnya pemahaman yang tepat tentang perubahan, pergeseran dan proses pergantian sesuatu. Kapasitas yang sedemikian rupa akan sangat membantu dalam usaha menyisir setiap jengkal dasar telaga hikmah yang menyimpan misteri “perubahan” kultur orang Sasak sebagai konsekuensi infiltrasi budaya yang dilakukan oleh bangsa Belanda.


Pada tahun 1894, Belanda mendarat di Lombok. Rakyat Lombok menolak pendaratan itu dengan perlawanan. Rakyat Lombok yang didominasi Suku Sasak menjajal kekuatan berperang tentara Belanda. Dalam perlawanan itu, lasykar rakyat berhasil menewaskan Wakil Panglima Tentara Belanda, Mayor Jenderal P.P.H. Van Ham. Peristiwa tersebut menyulut kemarahan Belanda. Lombok di bom-bar-dir, hingga kemudian ditaklukan. Itulah sejarah awal Lombok secara resmi menjadi daerah jajahan Belanda.


Sebagai daerah jajahan, Lombok yang sebagian banyak dihuni Orang Sasak, sejak tahun 1894 itu tiada henti menghadapi invasi. Ternyata tidak hanya invasi, infiltrasi budaya pun tidak kalah hebatnya. Usaha, baik invasi atau infiltrasi budaya yang digalakkan penjajah berujung pada pelemahan masyarakat Lombok. Rakyat Lombok memang bukan tipe masyarakat yang gampang ditaklukkan. Namun di sisi lain penjajah Belanda tidak berhenti mencari cara sekaligus melakukan penaklukan.


Upaya penjajah Belanda tidak sia-sia. Mereka akhirnya menemukan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang harus dipertimbangkan untuk dapat lebih dalam mencengkeramkan imprealisme di Lombok. Di antara temuan penjajah Belanda adalah: Pertama, menemukan sebuah strength (kekuatan) mereka berupa new trend dalam aspek arsitektur sebagai makro objektif yang berpeluang diterima secara meluas oleh bangsa-bangsa di mana pun, tidak terkecuali Bangsa Sasak. Kedua, mereka memastikan bahwa keterbatasan pengetahuan orang Sasak, sebagai faktor peluang (opportunity)  dalam memperkuat cengkeraman penjajahannya di Lombok. Ketiga, Belanda menyadari kelemahan ( weakness )- nya dalam merawat kelangsungan penjajahannya jika hanya mengandalkan intimidasi dengan kekuatan militer. Keempat, Mereka memastikan bahwa masyarakat Sasak secara umum, terutama yang berkemampuan, cukup respon terhadap kebaruan (novelty) arsitektur perumahan untuk menjamin kenyamanan dan kemanannya sebagai sebuah threat (tantangan) yang niscaya disahuti sehingga rakyat Lombok yang notabene adalah Suku Sasak menunjukkan sikap kooperatifnya terhadap Belanda.


Temuan-temuan di atas kemudian diimplementasikan dengan cermat oleh Belanda. Akibatnya, invasi dan infiltrasi Budaya yang dihajatkan untuk memperkuat posisinya selaku imprealis cukup berhasil. Dalam aspek kultural, satu-persatu ide, kreasi, dan produk penjajah berhasil mewarnai pilihan orang Sasak. “Sotoh” merupakan salah satu materi perubahan kultur yang dialami orang Sasak di era imprealisme tersebut.


Senada dengan sub tema artikel ini, patut dicurigai, bahwa “sotoh” adalah sebuah infiltrasi. Dalam bahasa yang sederhana, “sotoh” merupakan hasil kegiatan penyusupan terencana dengan maksud membobol “aqidah” bangsa Nusantara, khususnya orang Sasak. Jalur penyusupan ideologi “sotoh” ini adalah kebudayaan rancang bangun rumah (bale-langgak) yang termasuk faktor makro objektif. Artinya, infiltrasi budaya “sotoh” disiasati melalui kemasan yang seolah-olah murni pengembangan kultur arsitektur perumahan, sehingga pembobolan aqidah tersebut tidak disadari oleh orang Sasak. Sisi penting anasir pada alenia ini adalah dialog kritis yang men-trigger terkonstruknya pertanyaan, “ Mengapa “sotoh” dipastikan sebagai usaha terencana untuk memebobol aqidah orang Sasak?”  Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban yang di dalamnya mengurai secara spesipik tentang apa, geneologi, bagaiamana dan fungsi  “sotoh” tesrebut.


Sotoh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring diartikan sebagai bagian rumah berbentuk datar setinggi atap terbuat dari batu, tanah, atau sesuatu yang mengeras. Sotoh ini merupakan kata serapan dari bahasa-bahasa di Timur Tengah. di zaman al-Kitab atau Nabi Isa A.S. Sotoh merupakan bagian bangunan rumah setinggi atap berbentuk lantaian atau level yang biasanya dipagar dan di atasnya tertutup qubah. Letak “sotoh” di bagian pojok rumah dan dapat dinaiki dengan sebuah tangga atau loteng di sisi tembok luar sebuah rumah. Bagi ummat Yahudi, memagar tepian “sotoh” adalah wajib. Sementara itu, “sotoh”  adalah tempat menyendiri, bermeditasi, atau ritual peribadatan khusus untuk orang Israel,.  Selain untuk hal-hal sebagaimana di uraikan di atas, “sotoh” juga digunakan untuk pertemuan rahasia, menjemur, dan lain-lain.
Dengan kemasan yang luar biasa, “Sotoh” sangat mudah merubah selera desain rumah  Orang Sasak. “Sotoh” sebagai bagian rumah nyaris wajib adanya di setiap rumah, khususnya pada rumah oang-oang yang memiliki kemampuan lebih. Selam beberapa tahun setelah “sotoh” diterima, pemanfaatannya seputar untuk bertamu, santai, dan menjemur hasil bertani dan berladang orang Sasak.


Keinginan Belanda sesungguhnya tidak sampai sekedar pemanfaatan “sotoh” untuk beberapa kebutuhan seperti uraian di atas. Belanda masih punya “batu di balik udang.” Penjajah Belanda berkepentingan untuk benar-benar mengarahkan pikiran dan perilaku Orang Sasak untuk mentradisikan penggunaan “sotoh” sebagai tempat ritual sebagaimana mereka memanfaatkan “sotoh” tersebut.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hajat penjajah Belanda untuk mewujudkan penaklukan Orang Sasak melalui kultur “sotoh” menjadi angan-angan kosong.


Ada beberapa hal yang menekan kuat sehingga kultur “sotoh” tidak berpengruh secara signifikan terhadap keruntuhan aqidah atau pun peradaban orang Sasak. Pertama, Orang Sasak memandang “sotoh” dengan  prinsip “etnisitas kultural”. Artinya, “sotoh” dipandang hanya sekedar sebuah mode baru yang berfungsi sebagai seambi atau teras biasa. Dengan demikian orang Sasak ketika itu tidak menghubungkannya samasekali dengan aqidah atau pelumpuhan peradaban sebagaimana maksud teselubung penjajah Belanda. Kedua, dalam interval waktu penjajahan Belanda di Lombok, mainstream dakwah para tuan guru, seperti: Tuan Guru Umar Kelayu, Guru Mu’minah (Dato’ Majid), TGH. Syarafuddin Pancor, Guru Abdullah bin Amak Dulaji, Almagfur Lahu Maulanasyyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, dan seluruh ulama’ di Lombok, tak terkalahkan oleh idealism cultural Belanda.  Kalau saja dua protector ini tidak mengemuka, mungkin saja infiltrasi budaya “sotoh” akan membobol benteng aqidah dan nothing is impossible,   Orang Sasak akan hari ini akan melihat warna aqidah dan peradaban lain di Pulau Seribu Masjid. Wallohu’alamu.


*Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW dan Tenaga pendidik di SMA NW Pancor serta Dosen IAIH NW Pancor.

Posting Komentar

1 Komentar